Showing posts with label kejiwaan. Show all posts
Showing posts with label kejiwaan. Show all posts

Wednesday, January 20, 2016

Tawakal Pembuka Pintu Rezeki

Tawakal Pembuka Pintu Rezeki

Ada salah persepsi kala kita mendengar kata tawakal. Tawakal kadang identic dengan menyerahkan segala sesuatunya tanpa adanya usaha sedikit pun.

Padahal tawakal adalah sesuatu yang proses awalnya dimulai dengan sebuah ikhtiar. Tak sebatas ikhtiar biasa, namun sebenar-benarnya ikhtiar. Jika tawakal telah melalui proses yang benar, maka tawakal akan memiliki fadilah sebagai sebab turunnya rezeki.

Para ulama telah menjelaskan makna tawakal secara jelas. Di antaranya Imam Al-Ghazali. Ia berkata, “Tawakal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakali) semata.”

Berkomentar tentang tawakal, Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Hendaklah kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam ini kecual Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun rezeki, pemberian atau pelarangan, bahaya dan manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah.”

Jika orang beriman melakukan tawakal dengan sebenar-benar tawakal, maka ia akan menjadi jalan bagi terbukanya pintur rezeki. Dalam sebuah hadis dari Umar bin Khattab, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)

Kita lihat tawakal erat kaitannya dengan keyakinan yang utuh dan sangat kuat hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak ada yang bisa menggaransi burung yang terbang pagi hari jika ia pasti akan mendapatkan rezeki kecuali hanya Allah saja. Maka ia keluar dari sarangnya tanpa perasaan khawatir dan pulang dalam keadaan kenyang.

Keyakinan tinggi ini tidak boleh dilepaskan dari sikap tawakal. Jadi tawakal bukanlah penyerahan diri tanpa disertai apapun. Tawakal adalah keyakinan kuat itu sendiri. Allah Ta’ala berjanji barang siapa yang bertawakal dengan sungguh-sungguh, Dia akan mencukupi segala kebutuhannya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Ayat di atas jangan sampai dipahami secara terbalik. Jika Allah Ta’ala sudah menjamin dengan tawakal manusia akan diberi kecukupan, lalu apa gunanya bekerja dan usaha?

Imam Ahmad memberikan sifat orang-orang yang seperti itu sebagai orang yang tidak mengenal ilmu. Dalam hadis yang mengumpamakan tawakal manusia sebagaimana tawakalnya seekor burung, justru termaktub jelas tentang ikhtiar.

Burung tersebut bukan tinggal di sarang dan tidak melakukan apa-apa. Namun ia melakukan usaha, dengan cara keluar dari sarang pada pagi harinya dan pulang pada sore harinya.

Tawakal adalah keyakinan saat berangkat menuju pekerjaan. Bahwa Allah pasti akan mencukupkan rezekinya. Sehingga dia tidak memiliki kekhawatiran sedikit pun. Lalu ia bekerja dengan kondisi yang nyaman dan optimal. Oleh karenanya, rezeki yang Allah jaminkan tadi akan datang dengan deras.

Imam Ahmad juga pernah berkata, “Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.”


Republika 15 Januari 2016

Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, segera kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Wednesday, December 30, 2015

Efek Puasa Bagi Kesehatan Jiwa

Sehat Jiwa Dengan Puasa

Dalam kitab “mizan al-‘amal”, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa psikologi atau ‘ilm al-nafs pada hakekatnya bertujuan melatih jiwa dan mengendalikan hawa nafsu. Oleh karena itu, mempelajari ilmu ini adalah wajib. Sebab melalui ilmu ini cara-cara penyucian jiwa dapat dicapai. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (QS. 91:9)

Sedangkan mengabaikan ilmu ini akan berakhir dengan kerugian. “Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya.” (QS. 91:10)

Sakit jiwa lebih parah dibanding sakit fisik. Penyakit fisik hanya merenggut kehidupan yang fana, sementara penyakit hati menyebabkan kehancuran pada kehidupan yang abadi. Maka perhatian terhadap kaidah-kaidah penyembuhan sakit jiwa harus lebih diutamakan.

Pada intinya tazkiyah al-nafs difokuskan untuk mengarahkan tiga kekuatan dalam diri manusia, yaitu kekuatan fikir, kekuatan syahwat, dan kekuatan amarah. Fokus pertama adalah pembinaan kekuatan fikir. Terbinanya potensi fikir membuka manusia meraih hikmah. Dengan hikmah, manusia tidak lagi mencampuradukkan antara keimanan pada yang hak dan yang batil, antara perkataan yang benar dan dusta, antara perbuatan yang terpuji dan tercela. Hikmah juga menjaga akal manusia agar tidak terjerumus ke dalam limbah relativisme dan belantara purba sangka dalam berislam.

Fokus kedua ditujukan pada pengarahan kekuatan syahwat. Dengan terarahnya potensi ini, maka tercapailah kesederhanaan jiwa (iffah). Iffah akan membentengi manusia dari perbuatan maksiat dan senantiasa mendorongnya untuk mendahulukan perilaku yang terpuji. Ketiadaan iffah akan menggelincirkan manusia sebagai penyembah syahwat. Jiwa yang terkotori hawa nafsu dan akhlak tercela akan membuka bagi pintu-pintu setan, sehingga akalnya pun selalu diarahkan untuk berkhidmat kepada nafsu dan membuat makar. Ini karena kabut hitam telah menyelimuti kalbu dan memadamkan cahaya iman, sehingga tidak menyisakan ruang untuk bertafakur. Fokus ketiga diarahkan untuk mengendalikan kekuatan amarah hingga tercapainya kesabaran dan keberanian. 

Maka orang yang telah berhasil mengelola ketiga kekuatan di atas, niscara akan bersemai sifat adil dalam jiwanya.

Hasil Terapi Tiga Potensi Manusia

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. 49:15)

Iman kepada Allah dan rasul-Nya pada ayat di atas disertai dengan menafikan keraguan. Dan keraguan hanya bisa dinafikan dengan adanya keyakinan ilmu dan hikmah yang diperoleh dari pembinaan terhadap potensi fikir. Sedangkan berjihad dengan harta terlaksana berkat iffah yang lahir dari manajemen potensi syahwat. Berjihad dengan jiwa, tidak terlaksana kecuali adanya keberanian dan kesabaran yang merupakan buah pengendalian potensi amarah.

Dengan demikian, jiwa yang sehat menurut Imam Al-Ghazali adalah jiwa yang dihiasi denan empat induk kesalehan, yakni hikmah, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Beliau menjelaskan bahwa kerelaan memaafkan orang yang telah menzaliminya adalah kesabaran dan keberanian yang sempurna. Kesempurnaan iffah terlihat dengan kemauan untuk tetap memberi pada orang yang terus berbuat kikir terhadapnya. Sedangkan kesediaan untuk tetap menjalin silaturahmi terhadap orang yang sudah memutuskan tali persaudaraan adalah wujud dari ihsan yang sempurna.

Sebaliknya, ciri-ciri jiwa yang sakit adalah kosongnya jiwa dari keempat induk kesalehan di atas. Sakit jiwa bukan sekedar hilangnya akal, tetapi ia juga hilangnya ketaatan pada Sang Khaliq. Jikwa yang sehat adalah yang dimakmurkan ketakwaan, disucikan dengan riyadhah, jauh dari keburukan akhlak serta memotivasi akal untuk menyelami rahasia kebajikan.

Maka dengan ketiadaan setan yang mengitari kalbu manusia, peluang merasakan keagungan Allah dalam diri setiap manusia semakin terbuka lebar.


Republika 18 Juni 2015

Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Mengembangkan Kemampuan Diri

Self Coaching

Tertarik menggali potensi? Lakukan self coaching, yakni pendekatan dalam mengembangkan potensi diri dengan cara mestimulasi pikiran melalui proses kreatif pada diri sendiri. Self coaching bisa dilakukan dalam berbagai situasi, seperti pengambilan keputusan, menentukan pilihan, menenangkan diri, menggeser perspektif lebih luar, memahami situasi dari berbagai pihak, mencari tujuan dan makna hidup, mencari pengembangan diri, dan lainnya sebagainya.

Pertama, ketika menjadi seorang istri dan ibu, perempuan tentu akan turut berperan sebagai pengambil keputusan. Selain bertanya kepada suami, anak, dan anggota keluarga lainnya, lakukan dialog dengan diri sendiri.

Misalnya, “Apa sebenarnya yang ingin saya capai?”, “Apa dampaknya bagi saya, keluarga, dan orang lain?”, “Apa yang akan dirasakan keluarga apabila saya ambil keputusan ini?”, “Apa hubungannya dengan nilai-nilai diri dan keyakinan saya?” Pertanyaan tersebut bisa membuat perempuan mengerti perannya di dalam rumah dan lingkungan.

Kedua, seorang perempuan bisa menjadi coach bagi anaknya. Coaching ini akan berdampak pada lingkungan dan anak. Pada saat anaknya berusia dini, seorang ibu sebaiknya tidak hanya menyayangi, tapi juga menghargai anaknya sebagai manusia yang penuh daya. Cara coaching untuk anak adalah dengan membuat kesepakatan dalam aturan dan pola aktivitas buah hati sedini mungkin. Aturan tanpa maksud mengekang, tetapi lebih pada melatih pengelolaan waktu dan fokus pada prioritas pengembangan karakter dan kognitif anak.

Republika 28 April 2015

Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com


Menjalani Fase Kehidupan

Siap Menyongsong Tiap Babak Kehidupan

Pengasuhan sejak kecil dan faktor lingkungan turut membentuk kepribadian seseorang.
Pertambahan usia merupakan suatu keniscayaan, lain halnya dengan kematangan kepribadian seseorang. Perubahan kepribadian baru bisa terjadi ketika seseorang merasakan peristiwa atau pengalaman yang mendesaknya untuk berubah. Pada teori perkembangan, usia 20 tahun termasuk dalam fase masa akhir remaja. Idealnya, sebelum menapak ke usia selanjutnya, ada beberapa tugas perkembangan yang harus terselesaikan.

Kemampuan untuk memutuskan masa depan, termasuk pendidikan dan pekerjaan. Masuk usia 25 hingg 30 tahun, idealnya setiap orang sudah memiliki kepribadian yang lebih matang. Pada fase ini biasanya perempuan mulai mempersiapkan diri ke fase kehidupan selanjutnya, yakni berkeluarga.

Di saat bersamaan, perempuan memikirkan kematangan ekonomi agar tidak lagi bergantung pada orangtua. Begitu seterusnya ketika usia semakin bertambah. Secara umum idealnya demikian, tapi bukan tidak mungkin meleset dari teori.

Ada pula kondisi saat seseorang berusia 20 tahun justru memiliki pikiran jauh lebih matang dari usianya. Pengalaman hidup, lingkungan keluarga, dan sosial menjadi faktor penentunya.

Lingkungan sekitar dan keluarga memiliki andil besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Keluarga yang memiliki control kuat akan membuat anaknya berkembang lebih optimal. Anak akan menjadi pribadi mandiri dan tangguh tanpa harus bergantung pada orang lain. Pengasuhan yang tepat akan membuat seseorang lebih bijak menjalani hidup tanpa gejolak emosional berlebih.

Republika 28 April 2015


Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Mencegah Serangan Kecemasan

Tips Menghindari Kecemasan

Ketika seseorang mengalami kecemasan dan gangguan kejiwaan lainnya, sebenarnya bisa dihindari dengan hal-hal yang sederhana. Cara untuk menghindari kecemasan dan stress adalah sebagai berikut:

Mengenali diri sendiri
Dengan mengenali diri sendiri, seseorang menjadi tahu kelemahan dan kelebihan pada dirinya.

Berbagi cerita dengan teman
Untuk menghindari cemas, dapat juga dilakukan dengan bersosialisasi dan berbagi cerita dengan teman. Dengan berbagi cerita dengan teman, seseorang tidak akan merasa sendirian dan dapat membuat diri merasa nyaman.

Terapkan dan pelihara hidup sehat
Selain menerapkan pola hidup sehat, melakukan kegiatan berolahraga juga tak kalah penting dilakukan karena olahraga meningkatkan hormone endorphin dalam tubuh seseorang.

Jauhi rokok dan alkohol
Rokok, alkohol, dan narkotika sebaiknya penting untuk dijauhi. Hal ini karena apabila dekat dengan hal-hal buruk seperti itu, seseorang akan sering mengalami cemas, hidup tidak akan tenang, dan tidak nyaman.

Republika 23 November 2015


Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com

Mengatasi Gangguan Sindrom Metabolisme

Upaya Penanggulangan Sindrom Metabolik

Di dunia ini, penyakit akibat sindrom metabolic adalah penyakit paling banyak menyebabkan kematian. Penyakit metabolik tersebut, di antaranya, diabetes, kolesterol, hipertensi, dan penyakit jantung koroner.

Walau penyakit tersebut bukan termasuk penyakit menular, penyakit itu paling banyak menyebabkan kematian. Penyakit metabolic ini merupakan penyakit genetik yang diturunkan oleh orangtua kepada anak, sehingga sang anak juga berisiko terkena penyakit tersebut. Tapi sebenarnya penyakit ini bisa dicegah walau sang anak tetap berisiko terkena penyakit ini.

Sindrom metabolic adalah nama faktor risiko yang meningkatkan penyakit kronis tersebut. Menurut data WHO, 71 persen penyakit kematian di Indonesia salah satunya penyakit metabolic seperti diabetes.

Republika 26 Agustus 2015

Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com


Ketika Kecemasan Menjangkiti

Waspadai Kecemasan Berlebih

Masalah pemanasan global bisa menjadi pemicu seseorang mengalami kecemasan.

Anda sering merasa panic dan cemas ketika meninggalkan suatu benda, seperti telepon genggam? Pada kondisi tersebut, kebanyakan orang mungkin berpikir lebih baik meninggalkan dompet daripada harus meninggalkan telepon genggam. Ketika telepon genggam tertinggal, seseorang cenderung merasa panic dan gelisah.

Kondisi tersebut ternyata masuk ke dalam gejala ringan gangguan kecemasan yang banyak dialami manusia. Disadari atau tidak, banyak di antara kita yang kerap mengalami masalah ini.
Banyak pemicunya, mulai dari akibat faktor lingkungan, gaya hidup kaum urban yang serba cepat, dan masalah pemanasan global adalah sebagian umum yang bisa memicu seseorang mengalami kecemasan.

Kecemasan merupakan suatu masalah yang berkaitan dengan timbulnya gejala-gejala sistem saraf otonom di dalam tubuh. Biasanya kecemasan itu ditandai dengan timbulnya dua komponen gejala, yaitu gejala fisik dan psikologis.

Untuk gejala fisik biasanya ditimbulkan tubuh, seperti jantung berdebar, diare, pusing, berkeringat dingin, sesak napas, mual. Sementara gejala psikologis ditandai dengan perasaan khawatir, waswas, gugup, dan ketakutan.

Dalam praktik sehari-hari, beberapa diagnosis gangguan cemas yang sering ditemukan adalah gangguan cemas menyeluruh, gangguan cemas panic, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stress pascatrauma, fobia sosial, fobia spesifik. Namun, semua kecemasan tersebut ternyata memiliki dampak negatif dan positif.

Kalau karakter kecemasan yang muncul bersifat positif dan mekanisme penanganan atau terapi dapat dilakukan dengan tepat, dipastikan individu tersebut bisa menghadapi serta mengendalikan gangguan tersebut dengan baik.

Akan tetapi, apabila terjadi kebalikannya dan menimbulkan kecemasan berlebih hingga ketegangan terus-menerus, perlu melakukan terapi dengan psikolog atau psikiater.

Kecemasan yang berlebih kiranya juga patut untuk diwaspadai karena dapat mengancam jiwa.
Kalau gejala kecemasan sudah masuk ke dalam fase gangguan jiwa yang mengakibatkan gangguan depresi, baik pasien maupun paramedic, perlu melakukan penanganan khusus.

Penanganan khusus itu diperlukan karena dalam kondisi tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan fungsional pasien dalam pekerjaan. Tak hanya itu, kecemasan berlebihan dapat menimbulkan gejala fisik yang tidak bisa dijelaskan secara medic (psikosomatik). Sementara, pada gangguan yang lebih lama dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk bunuh diri.

Oleh karena itu, jika kecemasan tidak ditangani dengan baik, dapat berakibat depresi atau gejala gangguan lainnya yang lebih parah. Dengan mengendalikan kecemasan yang baik, tingkat produktivitas seseorang pun dapat terjaga untuk hidup yang lebih berkualitas.

Pada dasarnya kasus-kasus gangguan jiwa, seperti cemas dan depresi, ini bisa disembuhkan. Akan tetapi, pasien sering kali menunggu terlalu lama untuk datang ke paramedic karena cenderung merasa malu jika harus datang ke psikolog atau psikiater.

Terapi pada praktik psikiater bisa dilakukan dengan menggunakan obat atau psikofarmakologi maupun psikoterapi. Kombinasi dari dua cara pengobatan tersebut dapat diterapkan bersamaan kepada pasien yang mengalami masalah gangguan jiwa. Untuk terapi secara psikofarmakologi dalam pengobatan gangguan cemas ini dapat menggunakan obat antidepresan. Obat ini dapat bekerja dengan cepat setelah dikonsumsi.

Namun dihimbau bahwa penggunaan obat-obaan golongan tersebut harus dibawah pengawasan dokter ahli. Dengan begitu, pasien bisa mendapatkan dosis dan pengobatan yang tepat. Selain dengan terapi menggunakan obat, terapi kognitif dan perilaku secara ilmiah juga terbukti dapat mengatasi masalah gangguan cemas dan depresi, seperti melakukan relaksasi, sosialisasi, dan berolahraga.

Republika 23 November 2015

Untuk koleksi kain tenun tapis terlengkap, silahkan kunjungi www.rumahtapis.blogspot.com